Curhatan (Almarhum) Mertua

(16/08/2020) Almarhum Bapak Amir (mertua) pernah curhat sama saya, salah satu penyesalannya adalah dulu saat kondisi ekonomi keluarga sangat baik, harusnya beliau memahami pentingnya berinvestasi demi menyiapkan pondasi keuangan keluarga secara jangka panjang, baik itu pada aset seperti tanah ataupun memulai bisnis yang meskipun kecil namun bisa dikelola secara berkelanjutan. Seandainya dilakukan, mungkin kondisi ekonomi keluarga bisa jauh lebih baik.

Saya senyum saja waktu itu, saya bilang: “Pak, investasinya Bapak jauh lebih luar biasa dari itu semua, anak-anaknya Bapak karakternya baik, tulus, jujur, rendah hati, pekerja keras, mau berupaya dari nol secara mandiri, dan yang paling penting sederhana, sama seperti Bapak. Pak, saya juga sudah pernah rasakan hidup dengan ekonomi yang relatif lumayan sejahtera, yang malah menjadikan saya dan banyak anak-anak lain yang seperti saya, terbuai dengan semua kemewahan dan kemudahan itu. Akhirnya, kami malah gagal untuk bisa survive di hidupnya kami masing-masing, karena terlalu tergantung sama orang tua dan kecanduan atas kemewahan dan kemudahan. Celakanya lagi, beberapa bahkan tidak mampu menurunkan standar dan gaya hidupnya selepas kemewahan dan kemudahan itu sudah tidak ada lagi. Sekarang ini, Bapak mungkin tidak terlalu dipandang di lingkungan sosialnya Bapak yang mengukur orang dengan menggunakan ukuran-ukuran ekonomi. Tapi yang terpenting, Bapak di keluarga sudah seperti pahlawan super, di saat banyak orang justru sebaliknya pak, ‘wah’ di luar, ‘rusak’ di dalam.” Setelah itu Bapak kemudian mengelus-elus pundak saya dan pamit ke warkop (tempat Bapak biasanya cari peluang proyek/kerjaan).

Bapak Amir merupakan salah satu orang yang sangat berpengaruh bagi saya. Laki-laki yang memiliki karakter yang luar biasa baik dan tulus. Sewaktu pacaran, saya bahkan sempat tidak percaya saat Diah mengatakan bahwa Bapak seumur hidupnya bahkan tidak pernah ketus apalagi memarahi anak-anaknya. Setelah menikah, saya baru bisa betul-betul melihat kualitas laki-laki luar biasa ini, pantas menjadi pahlawan super dari keluarganya. Tidak jarang saya malu, melihat beliau yang bahkan tidak sempat mengenyam pendidikan di perguruan tinggi namun menurut saya lebih memahami hakikat dari pendidikan (karakter) itu sendiri. Bahagiaki selalu di sisi-Nya Pak.

Mengenang dua tahun kepergian Bapak Amir (16 Agustus 2018 – 16 Agustus 2020). Alfatihah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s