Resensi Buku – Return to Meaning: A Social Science with Something to Say

(10/06/2020) Pada dasarnya, penulis dalam buku ini mencoba mengekspresikan pandangan kritis mereka terhadap industri akademik saat ini, dimana gelombang tuntutan publikasi yang masif justru secara umum menghilangkan makna dari publikasi-riset yang ada. Makna dalam hal ini yaitu dampak riil yang mampu ditimbulkan oleh setiap publikasi berdasarkan riset dengan metode sains. Khususnya pada sains sosial, yang tentu memiliki tantangan tersendiri—misalnya dibanding sains alam—jika kita berbicara tentang dampak publikasi-risetnya bagi masyarakat. Fenomena ‘kehilangan makna’ di sini dianggap paling besar terdapat pada publikasi-riset di bidang sains sosial, dimana penelitian sosial lebih banyak dilakukan sebagai formalitas yang semata-mata bertujuan untuk meningkatkan jumlah publikasi ketimbang menciptakan dampak riil bagi masyarakat. Celakanya, gelombang publikasi tersebut pun hanya menjadi alat kebertahanan, misalnya seperti pelengkapan syarat administratif dari pengurusan kenaikan pangkat akademik seseorang.

Terdapat contoh yang sangat menarik pada buku ini, dimana diceritakan ada seorang fisikawan bernama Alan Sokal yang merupakan Profesor bidang matematika (University of College London) dan Fisika (New York University) melakukan sebuah eksperimen menarik. Di tahun 1996, Sokal mengajukan sebuah karya ilmiah pada jurnal bidang sains sosial dengan menggunakan pendekatan metode formula fisika kuantum dalam menjelaskan sebuah fenomena sosial yang kompleks. Lucunya, Sokal sendiri mengakui bahwa kerumitan formula fisika kuantum yang Ia paparkan pada karya ilmiah tersebut hanya omong kosong belaka (tidak menjelaskan apa-apa). Sokal ingin menguji apakah para akademisi di jurnal sains sosial tersebut memang melihat pada substansi konten dari karya ilmiah atau hanya pada keunikan dan kerumitan metode sains yang dipaparkan secara terstruktur. Hasilnya ternyata karya ilmiah ‘fiktif’ yang diajukan oleh Sokal justru diterima sebagai publikasi-riset yang bermutu di jurnal sains sosial tersebut. Hal ini memberikan bukti empiris betapa fenomena kehilangan makna ini senyatanya terjadi di dalam industri akademik saat ini.

Penulis dalam buku ini setidaknya mencoba mengingatkan kembali bahwa aktivitas penelitian seyogyanya bertujuan untuk memperkaya ilmu pengetahuan dan berkontribusi riil terhadap masyarakat. Peningkatan jumlah publikasi pada dasarnya bukan menjadi persoalan utama yang disasar oleh penulis, namun lebih kepada kesenjangan orientasi yang terjadi ketika peneliti hanya berfokus pada kuantitas publikasi dibanding kualitasnya, yang dalam hal ini yaitu dampak riilnya terhadap pengayaan/pembaharuan ilmu pengetahuan dan masyarakat. Publikasi perlu diingat posisinya hanya sebagai media bagi peneliti dalam berkontribusi terhadap ilmu pengetahuan dan masyarakat, bukan justru sebagai tujuan utama. Selain itu, jika kondisi ini terjadi secara berkelanjutan, tanpa sadar akan terbentuk kesenjangan baru antara masyarakat dan akademisi. Para akademisi akan kembali ‘hidup’ di menara gading yang selama ini justru dicoba untuk diruntuhkan. Hal ini secara nyata dapat kita lihat berdasarkan perbedaan komunikasi yang ada, dimana akademisi hanya akan ‘nyambung’ jika berdiskusi dengan sesama akademisi, sementara masyarakat sendiri sangat sulit memahami dan apalagi terlibat dalam diskusi tersebut.

Berbicara mengenai makna, penulis dalam buku ini membagi kebermaknaan kedalam tiga lapisan, yaitu makna bagi diri sendiri (ego), makna bagi kelompok (group), dan makna bagi dunia (world) (Gambar 1). Para akademisi dalam hal ini dapat berada pada berbagai lapisan maupun irisan makna tersebut. Kehilangan makna terjadi ketika aktivitas intelektual yang dilakukan oleh para akademisi hanya bermakna bagi dirinya sendiri, atau bahkan hanya menjadi tunggangan bagi kebertahananya secara pribadi. Dengan kata lain, semakin mampu para akademisi menarik kebermaknaannya tersebut ke tingkat yang lebih tinggi, maka akan semakin bermakna setiap aktivitas yang dilakukannya. Pertanyaannya kemudian, seberapa baik kah kita (akademisi) sebenarnya ingin menjadi bermakna?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s