Teman Hidup, Mama (Ina).

(1/12/2017) Hari ini Mama berulang tahun. Hari ulang tahun ini mungkin momen yang sangat berat untuk Mama, karena dirayakan dengan kondisi fisik yang belum pulih sepenuhnya. Tapi saya termasuk anak yang memiliki keyakinan yang sangat kuat terhadap Mama, terhadap kekuatannya.

Jujur saja, sampai saat ini saya masih sangat tidak percaya dengan kondisi Saya sekarang ini. Katanya, saat remaja adalah saat yang sangat penting dan menentukan bagi seorang manusia, karena merupakan masa transisi dari seorang anak menjadi manusia dewasa. Sementara itu, tekanan, masalah, dan persoalan hidup yang terbesar justru diperhadapkan kepada saya ketika saya masih remaja, dimana keluarga besar kami tercinta diterpa guncangan hebat. Tidak jarang saya merasa seperti anak hilang, tidak tahu arah, dan tersesat, di tengah konflik keluarga yang ada.

Dalam kondisi tidak tahu harus berbuat apa, sedih, marah, dan cenderung ingin tertawa lepas saja dan tidak memikirkan semuanya layaknya orang yang tidak waras, saya bahkan dihantui oleh lingkungan sosial yang sangat banyak memperlihatkan bagaimana kondisi dan masa depan untuk anak-anak remaja yang berada di pusaran konflik yang sama seperti yang saya hadapi. Ada yang narkoba, kriminal, stres akut, mengasingkan diri, bahkan lari entah ke mana. Di saat yang bersamaan, masa itu bukan waktu yang tepat untuk berkeluh-kesah.

Sebuah kesyukuran yang luar biasa, saya dianugerahi Mama yang sangat kuat, yang mampu tetap memastikan saya tidak berada di jalur yang salah, sembari menghadapi persoalan rumah tangganya. Bahkan, dia selalu tahu momen yang tepat untuk memotivasi saya, bahwa saya tetap bisa menjadi orang ‘besar’ suatu saat nanti, atau betapa saya selalu dilihat sebagai anak yang “full skill”katanya, yang mampu (istilah Mama: jago) melakukan apa saja, dan belajar dengan cepat di bidang apa saja. Semua itu dilakukannya sendiri, di rumah bak istana yang pada akhirnya hanya dihuni oleh kami bertiga.

Saya sangat menikmati ketika sering diajak berdua ke pasar hingga ke pelabuhan ikan, bahkan sejak Saya masih di Sekolah Dasar. Pertanyaan yang selalu dilontarkan, mau makan apa? pilih. Mungkin ini yang dapat menjelaskan mengapa Saya sangat senang ke pasar. Di atas segala keindahan dan kenikmatan berbelanja di pasar (lokal), saya bahagia karena secara tidak langsung terproyeksikan saat-saat bersamanya.

Saat beranjak remaja pun tidak kalah seru. Mulai dari menemani Mama belajar menyetir, yang kebanyakan akhirnya saya hanya disuruh tidur di mobil, agar tidak ketakutan (haha), hingga bersama-sama menghalau pencuri/perampok masuk rumah. Memang pada waktu itu rumah merupakan primadona di mata para mereka (baca: pencuri/perampok), karena ukurannya yang sangat besar dan umumnya hanya diisi oleh empat orang, Mama, saya, Mamad, dan asisten rumah tangga. Mama merupakan idola bagi teman-teman sekolah saya, karena dengan alasan yang sederhana, kami sudah dapat diberi ijin untuk bolos sekolah di rumah, bahkan disediakan makanan. Padahal, sekali bolos kami secara total bisa sampai dengan 15-20 orang.

Apalagi saat kuliah, meskipun dalam kondisi sakit yang cukup berat, beliau cukup memberikan saya ruang untuk bisa beraktivitas di kampus dan membangun jaringan dengan berorganisasi, seperti pesan Bapak. Salah satu kesedihan saya sewaktu kuliah adalah ketika menghilangkan laptop pemberian Mama, yang dibeli dengan tabungan yang sudah beliau kumpulkan beberapa bulan, hanya karena saya ingin laptop yang jauh lebih baik (dan tentu mahal) dibanding laptop yang ingin Mama belikan di beberapa bulan sebelumnya. Luar biasanya, meskipun laptop tersebut baru Saya gunakan beberapa bulan dan hilang, Mama justru mendatangi saya dan memeluk sambil menjanjikan akan membelikan yang jauh lebih baik dan baru. Padahal, Saya sudah siap dimarahi habis-habisan oleh beliau. Mama bukan orang yang cukup tenang, tapi dia tahu kapan tenang itu dibutuhkan.

Tanpa Mama, saya tidak bisa membayangkan saya akan jadi seperti apa. Khususnya ketika remaja, saat krusial dimana saya berada pada pilihan menjadi ‘bebas’ atau menghadapi semua permasalahan yang ada dan belajar bertanggung jawab, bahkan hingga bisa sampai pada titik sekarang ini.

Cerita ini tentu hanya sebuah titik kecil dari luasnya semesta kisah tentang Mama dan saya. Namun setidaknya memberi saya sedikit ruang privat untuk romantisme masa lalu tentang Mama. Seorang teman hidup yang kuat dan luar biasa hebat. Saya menganggap tulisan ini seperti sebuah doa, doa yang akan diteruskan langsung oleh Tuhan ke dalam hati Mama, mengingatkan betapa kuat dan luar biasanya Mama, dan apapun yang dihadapinya saat ini, bukanlah apa-apa.

Untuk Mama dan kesembuhannya. Aamiin..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s