Sociopreneurship atau Social Business?

(24/2/2014) Pada masa sekarang ini, terdapat sebuah konsep baru dalam melakukan kegiatan usaha yang disebut dengan sociopreneurship, seperti yang kita bisa pahami dengan sekilas melihat namanya, sangat mirip dengan kata entrepreneurship yang sering kita jumpai. Sociopreneurship lahir sebagai suatu gagasan baru yang mencoba memadukan antara aktivitas ekonomi yang menguntungkan dan sekaligus berkontribusi dalam pengembangan lingkungan sosial yang dalam hal ini dikontekskan sebagai sebuah usaha pengembangan dan pemberdayaan masyarakat.

Perbedaan mendasar antara sociopreneurship dan entrepreneurship adalah terletak pada prinsip kebermafaatannya, dimana sociopreneurship berprinsip bahwa kegiatan ekonomi yang dilakukan sudah seharusnya memberi kebermanfaatan yang bersifat komunitas (sosial), berbeda dengan entrepreneurship yang sifat dasarnya dalam melakukan kegiatan ekonomi adalah kebermanfaatan secara individual. Pun ketika terdapat kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial atau memberi kebermanfaatan terhadap lingkungan sosialnya, semata-mata hal itu hanyalah sebuah aturan pemerintah (UU No. 40 tahun 2007) tentang corporate social responsibility (CSR), dimana aturan tersebut mewajibkan setiap perusahaan yang ada di negara ini agar menyisihkan 5 (lima) persen dari laba yang mereka dapatkan dalam aktivitas ekonominya, dan diperuntukkan untuk pengembangan dan pemberdayaan lingkungan sosialnya. Meskipun pada prakteknya pun secara pribadi saya tidak betul-betul melihat kesungguhan dari tiap perusahaan tersebut dalam melakukan pengembangan dan pemberdayaan lingkungan sosialnya. Bahkan, saya melihat bahwa kegiatan sosial yang dilakukan tersebut cenderung dijadikan sebagai usaha promosi dengan mengangkat hal-hal yang berlatar ‘kepedulian sosial’.

Photo Source: kingscollege.edu.np

Berbeda dengan social business karya Muhammad Yunus, meskipun sociopreneurshipberasaskan kebermanfaatan secara komunitas (sosial), tetap saja ia berbicara tentang keuntungan ekonomi terhadap individu-individu yang berada didalam lingkungan sosial (komunitas) tersebut. Seperti definisi yang dikemukakan oleh Peter F. Drucker, bahwa “entrepreneurship adalah sebuah aktivitas yang secara konsisten mengkonversi ide-ide bagus menjadi sebuah usaha perniagaan yang menguntungkan”, maka sociopreneurship pun secara garis besar akan berbicara tentang usaha perniagaan yang menguntungkan, pun terdapat sedikit perbedaan dalam kebermanfaatan yang dihasilkan tersebut entah bersifat individual ataukah bersifat komunitas (yang dikatakan sebagai sosial). Sedangkan bisnis sosial yang diprakarsai oleh Muhammad Yunus secara murni berasaskan untuk kepentingan umat, dimana kegiatan ekonomi yang dijalankan semata-mata hanyalah untuk pendanaan operasional saja.

Dari gambaran umum di atas, yang cukup dibanyak dibahas dalam buku Social Business karya Muhammad Yunus adalah kita dapat melihat bahwa antara sociopreneurship dan social business memiliki beberapa perbedaan yang cukup mendasar, yang mana bisa mempengaruhi model bisnis dan aktivitas-aktivitas sosial-ekonomi sebuah lembaga atau institusi yang berkecimpung di dalamnya. Beberapa perbedaan tersebut akan coba dibahas pada tulisan ini. Pertama, seperti yang dibahasakan di paragraf sebelumnya tentang output aktivitas atau bisnis, dimana meskipun semuanya berorientasi pada perubahan social. Namun sociopreneurship tetap berfokus pada kegiatan yang memberikan keuntungan secara finansial kepada individu-individu yang berada dalam komunitas (lingkungan sosial) tersebut, sedangkan social business sepenuhnya berorientasi pada kerja-kerja sosialnya, hal ini tercermin pada tidak adanya pembagian dividen dalam perusahaan yang bergerak di social business tersebut, pun ketika terdapat laba dari kegiatan ekonomi yang dilakukan (setelah dikurangi biaya-biaya operasional), laba tersebut hanya akan dipergunakan untuk perluasan atau perbaikan perusahaannya. Intinya, setiap laba yang dihasilkan didedikasikan seluruhnya untuk kepentingan mencapai misi sosial perusahaan tersebut (Anggi Guswara, “Bisnis Sosial – Muhammad Yunus”). Kedua, setiap pekerja yang berada di dalamsocial businessmemang adalah orang-orang yang memiliki idealogi yang kuat tentang kerja-kerja sosial yang mereka geluti, dimana mereka dibayar hanya sesuai dengan standar upah yang rata-rata meskipun bekerja dengan kondisi pekerjaan yang cenderung di atas rata-rata, namun tentu saja tetap dikerjakan dengan sepenuh hati. Ketiga, tentu saja berbeda dengan perusahaan-perusahaan secara umum, social businessmenekankan tentang pertanggungjawaban ekologi (Wawan Dhewanto, “Membangun Bisnis Sosial ala Muhammad Yunus”), dimana hal tersebut menjadi salah satu nilai dasar yang dipegang dalam menjalankan usahanya, yang mungkin dapat terbahasakan dengan kegiatan atau usaha yang selalu bercirikan ramah lingkungan. Keempat, Muhammad Yunus menekankan kepada orang-orang yang bergerak pada social businessini bahwa sudah menjadi pedoman dasar agar mereka harus selalu menjalankan kerja-kerja sosial tersebut didasari dengan pegangan terhadap nilai-nilai spiritualitas, dimana secara praktis Ia membahasakannya dengan dikerjakan secara ikhlas, senang hati, niat ibadah, dan lain sebagainya. Sebagai kesimpulan, Social Business dan Sociopreneurshipmemang sama-sama berbicara tentang kegiatan sosial, tapi setelah mengamati lebih dekat, kita mungkin bisa menemukan beberapa perbedaan-perbedaan mendasar terkait dengan jenis usaha di bidang sosial-ekonomi tersebut. Idealnya, meskipun tanpa menafikan kebutuhan ekonomi setiap individu dalam sebuah civil society yang melakukan kegiatan sosial, kegiatan sosial sudah seharusnya berorientasi pada misi perubahan sosial yang ingin dilakukannya, bukannya pada kebermanfaatan yang ingin didapatkan oleh setiap individu yang berada dalam satu komunitas (lingkungan sosial) dari kegiatan sosial yang mereka jalankan. Intinya, jangan pernah berharap mendapatkan kekayaan ataupun peningkatan taraf hidup yang lebih baik dalam sebuah kerja-kerja social. Namun di sisi lain, kita tentu saja berkewajiban untuk mempertahankan keberlangsungan hidup kita. Atau bisa kita katakan dengan “tidak kaya, tapi bukan juga berarti melarat” (Abdul Madjid Sallatu).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s