SBY: Menyoal Curhatan Pribadi

(31/5/2011) Sosok Presiden kita SBY kembali hadir dalam layar kaca kita. Sayangnya, tidak seperti apa yang kita harapkan dan selalu nantikan tentang sebuah kabar gembira atas perubahan bangsa yang lebih baik. Presiden kita malah mempublikasikan sebuah “pesan gelap” yang sedikit banyak menjelaskan tentang segala bentuk keburukan yang ada di dalam lembaga atau instansi yang dinahkodainya. Bahkan, sampai pada ranah pribadinya sendiri. Banyak kalangan yang dengan tegas menyayangkan tindakan yang dilakukan oleh orang nomor satu di negeri ini tersebut, yang dianggap tidak lebih dari sebuah tindakan anak kecil yang bercerita (baca:curhat) akan sebuah hal yang bahkan tidak memiliki dasar yang jelas akan sumber dan perihalnya.

Setiap pilihan hadir, pasti memiliki konsekuensi tersendiri atas pilihan yang bersangkutan, sama halnya pada setiap tindakan yang dilakukan, kehadirannya pasti memiliki sebuah tujuan tersendiri, begitu pula yang ingin dicapai. Dan wajar-wajar saja ketika tiap orang ingin mendapatkan simpati dan penghargaan dari masyarakat luas, yang mungkin saja menjadi salah satu tujuan dari tindakan yang Ia (baca:SBY) lakukan. Akan tetapi (tanpa mengurangi rasa hormat saya pak), ketika seseorang ingin menarik simpati dan penghargaan dari masyarakat, akan sangat salah dan aneh ketika kita menganggap itu bisa didapatkan hanya dengan berkata-kata di depan publik layaknya orang yang sedang tertindas, apa lagi dalam konteks seorang pemimpinsebuah negara, yang berharap secara tidak langsung dapat menarik simpati dari publik. Karena simpati dan penghargaan tidak didapatkan hanya dengan berkata-kata, akan tetapi juga dengan melakukan hal yang baik dan tentu saja konkrit.

Photo Source: voaindonesia.com

Dan dalam konteks seorang pemimpin sebuah negara, yang dimana ia (baca:Presiden) adalah seorang ujung tombak negara dan dianggap sebagai orang yang akan berdiri di garda paling depan dalam memajukan bangsa dan negaranya, dalam hal ini masyarakat sebagai konstituennya, menyedihkan ketika ia (baca:Presiden) masih sempat memikirkan hal-hal yang bersifat kedirian atau pribadi, karena seorang Pemimpin bukan tentang kumpulan orang-orang yang bersifat individual dan masih terus membawa ego pribadi dalam berbagai hal.

Di sisi lain, mencoba menggunakan sebuah cara berfikir yang cukup kasar (mohon maaf sebelumnya), kalau kita mencoba menarik sebuah analogi dari sistem kerja yang ada dalam sebuah perusahaan, secara sederhana, seorang Presiden dapat diasumsikan sebagai seorang Direktur Utama, dan masyarakat yang dalam hal ini konstituennya adalah sebagai para Pemegang Saham (Shareholders). Segala bentuk kinerja dan tindakan seorang Direktur Utama, harus didasari atas kepentingan dari para Pemegang Saham sebagai Shareholdersyang ada di dalam Perusahaan tersebut. Dan masyarakat sebagai Shareholders, sama sekali tidak memiliki kepentingan atas segala bentuk masalah pribadi yang terjadi pada Direktur Utama, karena terlepas dari masalah dan apapun yang terjadi pada sang Direktur Utama, Shareholdersberhak untuk tetap menuntut sebuah perubahan yang lebih baik. Karena itulah Sang Direktur Utama dipilih dan dipekerjakan.

Hanya sebuah pemikiran sederhana atas pengetahuan terbatas. Mohon maaf apabila terdapat hal yang kurang berkenan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s