Refleksi Seorang (Pemilih) Pemuda

(1/4/2014) Dewasa ini kita begitu banyak melihat pergulatan antara para tokoh-tokoh partai politik yang tanpa jeda saling bersaing dalam merebut ‘simpati’ masyarakat. Elektabilitas partai dan tokoh yang bernaung di dalamnya menjadi sebuah indikator yang dominan dalam mengukur berhasil tidaknya mereka berkompetisi dalam arena politik tersebut.

Untuk pemilu pada tahun 2014 sekarang ini, sekitar 186 juta masyarakat di seluruh Indonesia telah resmi menjadi ‘bahan rebutan’ (baca: pemilih) oleh 12 partai politik yang ada. Pemilih muda dan pemula menjadi calon penyumbang suara yang signifikan dengan berada pada angka 53 juta suara atau 28% dari total pemilih yang ada. Sehingga tidak heran melihat setiap partai politik yang ada cukup banyak melakukan effort dengan mengerahkan segala sumber daya yang mereka miliki untuk mencoba menyasar ‘pasar’ potensial tersebut. Mulai dari melakukan pendekatan menggunakan instrumen media sosial, intens menyapa dan berinteraksi dengan komunitas-komunitas pemuda, sampai pada pembentukan organisasi-organisasi pemuda yang kemudian dijadikan sebagai organisasi sayap dari partai politik yang bersangkutan. Misalnya seperti organisasi Tidar sebagai turunan dari partai Gerindra dan Liga Mahasiswa Nasdem dari partai Nasional Demokrat, dan lain sebagainya.

Dalam kajian pemasaran, Hermawan Kartajaya dalam bukunya Anxieties and Desires sudah sejak 2009 yang lalu mulai aktif memaparkan tentang 3 (tiga) komunitas yang ia anggap sangat potensial dalam dunia bisnis atau pasar ke depannya, yaitu youth, women, and netizen. Ketiga komunitas tersebut dianggap semakin powerfuldan menjadi influencersyang signifikan dalam dunia bisnis atau pasar. Misalnya seperti komunitas anak muda (youth), yang dianggap potensial karena secara umum dipahami sebagai sebuah komunitas yang lebih bisa mempengaruhi golongan masyarakat yang termasuk dalam kategori tua, memiliki kepekaan dan intensitas yang tinggi dalam menangkap informasi yang beredar (update), serta tergambarkan sebagai bagian dari masa depan, dan lain sebagainya. Dari sini dapat kita pahami bahwa pada beberapa kajian yang ada, pemuda memang menjadi variabelyang potensial dan signifikan dalam berbagai konteks, tidak hanya pada konteks dunia usaha, namun juga pada konteks yang lebih besar yaitu persoalan kebangsaan. Maka sekiranya kita perlu betul-betul memahami betapa pentingnya peran para pemuda saat ini, yang bagi setiap kalangan menjadi variabel yang potensial dan signifikan dalam menentukan arah bangsa kedepannya.

Hanta Yuda, Direktur Eksekutif POL-Tracking Institute dalam acara Lawan Bicara di Metro TV (31/03/14) pada beberapa hari yang lalu memaparkan hasil survei politik yang dilakukan bersama rekan-rekannya, yaitu tentang faktor-faktor penentu kegagalan para partai politik yang ada dalam mendapatkan kepercayaan (baca: suara) para pemilih. Pertama, ialah faktor keterlibatan atau terjeratnya kader partai politik tersebut pada beberapa kasus korupsi yang ada. Kedua, dikarenakan faktor program, dimana program yang ditawarkan oleh partai politik yang bersangkutan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masyarakat sebagai konstituennya. Sedangkan yang ketiga ialah disebabkan oleh faktor tidak adanya tokoh atau figur yang diidolakan didalam partai politik tersebut. Pada sesi yang berbeda, Hanta Yuda juga memaparkan tentang 3 (tiga) faktor yang perlu diperhatikan dalam mendekati pemilih muda, yaitu pertama adalah apa keinginan dari para pemuda, kemudian pada faktor yang kedua adalah apa yang ditawarkan oleh partai politik atas keinginan pemuda tersebut. Dan baru selanjutnya, pada faktor ketiga ialah faktor sosialisasi, atau berbicara tentang pengeksekusian dengan menggunakan instrumen dan strategi apakah partai politik tersebut dalam mensosialisasikan konsep visi-misi dan program yang ditawarkan tersebut.

Photo Source: kliktrabiyah.com

Maka perlu diketahui bahwa segala bentuk strategi dan instrumen (kampanye) partai politik dalam rangka peningkatan elektabilitasnya yang marak dilancarkan dalam menuju pemilu legislatif yang sebentar lagi akan diselenggaran, sepatutnya dipahami lebih dari sekedar penguatan popularitas partai politik belaka. Karena berdasarkan survei yang dilakukan oleh POL-Tracking Institute di atas, hal tersebut ternyata adalah ‘iman’ terendah untuk dijadikan sebagai landasan dalam memilih partai politik sebagai seorang pemilih muda. Namun, dalam menetapkan pilihan atas partai politik, seyogyanya para pemilih muda memilih dengan dilandasi oleh kesesuaian antara konsep visi-misi hingga program yang ditawarkan dengan kebutuhan daerah dan para pemilih muda tersebut. Sehingga kita tidak sekedar terbuai atas popularitas yang disampaikan (dibangun) melalui instrumen-instrumen yang digunakan seperti media sosial, yang saat ini menjadi instrumen paling dominan digunakan dalam menggaet 100 juta masyarakat Indonesia yang menjadi pengguna jejaring sosial, dimana sebagian besarnya ialah anak muda.

Hal di atas diperkuat oleh Muhammad Romahurmuziy, Wasekjen Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang dalam acara yang sama (Lawan Bicara, Metro TV pada 31/03/14) menjelaskan bahwa pemilu hari ini dikerucutkan pada pertarungan elektoral (banyak-banyakan kursi), dimana dalam berbagai survei terlihat bahwa ideologi sudah tidak lagi menjadi pertimbangan. Padahal, pertarungan seharusnya berbasis pada ideologi untuk pematangan demokrasi. Selanjutnya, dengan mengerucutnya pertarungan pada konteks elektoral, maka semua partai akan berusaha menuju pada elektabilitas yang tertinggi. Namun, sebelum electable,sebuah partai akan berbicara tentang acceptable, dan sebelum acceptable,sebuah partai akan masuk pada popular. Maka dapat kita pahami bagaimana konstruksi realitas politik sekarang ini lebih menekankan pada konteks popularity(popularitas), sehingga tidak heran ketika fenomena tingkat partisipasi artis di dalam deretan nama-nama peserta pemilu legislatif maupun eksekutif di setiap jenjang dan tingkatan konstestasi politik yang ada kian meningkat.

Kembali melihat dari sudut pandang ilmu pemasaran. Hasil survey POL-Tracking Institute juga sebenarnya menjelaskan tentang betapa pentingnya para partai politik yang ada untuk berpikir sebagaimana para pemasar membahasakannya dengan customer centric, sebuah fase dalam perkembangan ilmu pemasaran dimana para perusahaan tidak lagi bisa hanya berorientasi pada penciptaan produk secara subyektif saja, namun harus beralih pada penciptaan produk dengan berfokus atau didasari pada kebutuhan para konsumennya. Pada fase ini, para pemasar mengakui dan menghargai adanya keunikan yang dimiliki oleh setiap konsumen, dan keunikan tersebut adalah hal yang tidak lagi bisa untuk tidak dipertimbangkan. Oleh sebab itu, ketika para partai politik yang ada mulai merubah sentrum berpolitiknya dengan berorientasi pada masyarakat sebagai ‘konsumen’nya, maka sebaiknya model sosialisasi (baca: kampanye) tidak lagi lebih didominasi oleh model-model yang bersifat satu arah, yang hanya didasarkan oleh konstruksi subyektifitasnya, atau bahkan hanya melakukan penguatan citra (elektabilitas) semata. Kampanye dialogis yang bersifat dua arah adalah salah satu alternatif yang sesuai dengan model customer centric tersebut, yaitu memberi ruang agar para konsumennya (baca: konstituen) dapat berperan atau berpartisipasi terhadap konsep visi-misi ataupun program yang ingin dibawa oleh para partai politik tersebut, sebagai bagian yang fundamental dari proses politik dalam sistem demokrasi ini.Mengutip pesan dari Darsam Belana, seorang peneliti muda dari Philosophia Institute yang mengatakan bahwa “Setiap orang yang kamu pilih untuk jadi perwakilanmu di parlemen harus kamu pertanggung jawabkan, karena suara kamu adalah syarat terpilihnya dia. Tapi kalau kamu tidak bisa menemukan figur yang tepat untuk mewakili kamu, maka tidak memilih adalah sebuah pilihan tepat. Karena setiap pilihan harus dipertanggungjawabkan.” Maka menjadi pemilih yang bervisi, kritis, cerdas dan bertanggungjawab adalah cerminan seorang (pemilih) pemuda, yang kita telah pahami bersama bahwa perannya tidak lagi bisa dianggap remeh. Bahkan, cenderung jauh lebih krusial dari golongan yang lainnya. Tentu saja hal tersebut karena pemuda direpresentasikan sebagai bagian yang penting di masa yang akan datang. Bukankah Bung Karno hanya memerlukan 10 pemuda untuk mengguncang dunia?.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s