Refleksi Pemilih Pilpres

(8/7/2014) Dear all voters,

Besok kita akan melakukan pemilihan presiden. Kita semua sadar bahwa secara politik setiap orang memiliki pertimbangan tersendiri dalam menentukan pilihan, yang jujur-jujur saja, juga banyak dikarenakan sebagai bagian dari partai politik, organisasi turunan partai politik, korporasi yang mendukung salah satu calon, komunitas pendukung calon, ataupun pada faktor-faktor eksternal lainnya.

Muhammad Yunus dalam bukunya (Bisnis Sosial) memaparkan bahwa kelemahan paling mendasar dalam teori kapitalisme terletak dalam penjabarannya yang menyesatkan mengenai ciri dasar manusia. Kapitalisme dalam penafsirannya memandang bahwa manusia yang terjun ke dunia usaha diasumsikan sebagai makhluk satu dimensi, yaitu dengan tujuan tunggal memaksimalkan keuntungan pribadi. Hal ini dibantah oleh Yunus yang meyakini bahwa setiap manusia adalah makhluk multi dimensi, yang meskipun di satu sisi mementingkan diri sendiri, namun juga bisa peduli kepada sesama. Yang artinya, kedua hal yang bersebarangan ini terdapat pada sifat dasar manusia, yang tidak hanya berbicara pada kepentingan pribadi semata. Dapat kita pahami betapa Yunus meyakini bahwa sifat-sifat altruistik juga ada, tumbuh dan berkembang dalam diri manusia.

Begitupun dalam konteks pemilihan umum tadi, betapapun kita berada dalam sebuah kelompok yang kebetulan memiliki kepentingan tersendiri dalam masa copras-capres kali ini. Mari sejenak kita mengingat tidak hanya apa yang terbaik untuk kelompok dan diri kita sendiri, tapi juga untuk para kakek dan nenek yang sering merasakan sakitnya ditolak ketika mau berobat di rumah sakit, para ibu di pelosok yang merasakan pedihnya tidak bisa membeli barang-barang untuk kebutuhan rumahnya, untuk para ayah yang merasakan sedihnya tidak mampu menyekolahkan anaknya, untuk para pemuda yang sangat ingin untuk bisa ikut mengenyam pendidikan atau bahkan bekerja, dan untuk setiap anak yang merupakan masa depan bangsa dan negara kita tercinta. Yang siapapun Presidennya, kita masing-masing tentu masih bisa hidup secara mandiri, sangat berbeda kondisinya dengan mereka.

Photo Source: jambi.tribunnews.com

Maka, betapapun kita harus tunduk pada sebuah ‘instruksi’ demi kepentingan kelompok tertentu (sebagai bagian dari kelompok tersebut) selama masa kampanye. Pada 9 juli besok, hanya ada kita, kertas suara dan bilik suara. Saya mencoba meyakini keyakinan Yunus bahwa pilihan kita (manusia) tidak melulu didasari oleh asumsi dasar paham kapitalis yaitu pada maksimalisasi profit (secara individualistik), yang padahal siapapun Presidennya kita tetap saja bisa menghidupi diri dengan layak. Namun tentunya pilihan kita lebih mempertimbangkan kondisi orang-orang lain yang sulit untuk menjalani kehidupannya secara layak di negeri ini, tanpa adanya keberpihakan yang tegas oleh pemegang otoritas negeri.

Selamat memutuskan pilihan yang terbaik, pun dalam proses kali ini yang memang jauh dari kesempurnaan. Namun setidaknya kita banyak belajar akan dua hal, yaitu bisa lebih dewasa dan berwawasan luas dalam sebuah kontestasi politik.

Sekali lagi, karena besok hanya ada anda, surat suara, dan bilik suara.

Selamat memilih..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s