Istri Saya Berbeda

(5/1/2016) Beberapa saat setelah menyelesaikan ijab qabul dan serangkaian prosesi pernikahan lainnya, terdapat satu air mineral dalam bentuk botol plastik di kamar kami yang hendaknya saya sebagai suami meminumnya, pesan dari para nenek dikeluarga istri melalui istri saya. Menariknya, istri saya justru melarang saya meminumnya dengan menjelaskan bahwa minuman tersebut dibuat dengan segala macam ‘doa orang dulu’ agar (katanya) suami bisa tunduk terhadap istrinya. Dengan yakin istri saya mengutarakan bahwa ketimbang takut suaminya tidak mau tunduk terhadap dirinya, Ia jauh lebih takut pada kondisi dimana suaminya tidak bisa menjadi ‘siapa-siapa’ ketika terlalu dihantui oleh ketakutan terhadap istrinya. Saya bahkan teringat bahwa teori eskpektansi (expectancy theory) (Vroom, 1964) yang sudah cukup mapan dalam menjelaskan mekanisme psikologis dalam dorongan motivasi seseorang sekalipun, masih belum dapat secara kompehensif menggambarkan abstraksi motivasi yang dimilikinya.

Lebih lanjut, di saat para istri-istri di sekitar kami bercerita terkait pentingnya peran aktif istri dalam memonitor aktivitas dan kegiatan suami, beliau (istri) memperlihatkan betapa kuatnya iman yang Ia miliki terhadap suaminya dengan perilaku yang cenderung menerima dan menjalankan apa yang disampaikan suaminya tanpa banyak bertanya. Di satu sisi, pandangan umum masyarakat (khususnya para istri) akan mengatakan bahwa pemikiran tersebut tidak tepat karena suami bisa saja berada pada jalur yang salah tanpa diketahui dan menjadi terbiasa karena keleluasaan yang diberikan. Namun di sisi lain, sebagai suami saya justru merasa kepercayaan dan keyakinan beliaulah yang jauh lebih kuat dalam ‘menjaga’ saya, khususnya terhadap ketakutan-ketakutan tersebut. Sepertinya, teori kognitif sosial (social cognitive theory) (Bandura, 1986) yang secara umum berpendapat bahwa faktor sosial memiliki peran besar dalam perkembangan kognitif seseorang ternyata tidak cukup terperinci, misalnya dalam menjelaskan fenomena ini.

Perannya sebagai istri dalam rumah tangga pun dijalankan dengan sangat ikhlas, sabar, tawaddu, dan nyaris tanpa keluhan yang berarti. Sebagai suami, saya benar-benar dihindarkan dari segala macam persoalan rumah tangga. Penjelasan yang paling romantis darinya adalah agar saya dapat berkonsentrasi dalam belajar dan kemudian bisa mengajarkan pengetahuan-pengetahuan baru yang saya dapatkan dari serangkaian teks perkuliahan tersebut padanya. Menariknya, meskipun pada akhirnya saya sangat jarang menyempatkan diri untuk berbagi pengetahuan dengannya, tidak ada perubahan atmosfir yang berarti pada keseharian kami. Senyum dan semangatnya masih dapat saya nikmati disetiap aktivitas kami. Ternyata, teori pertukaran sosial (social exchange theory) (Blau, 1964) yang juga dialamatkan pada konteks pernikahan bisa menjadi kurang tepat ketika digunakan dalam menjelaskan interaksi antar dua individu yang berada dalam sebuah ikatan.

Pandangan teori institusional (DiMaggio dan Powell, 1983) melalui perspektif isomorfisme-nya berpendapat bahwa dalam struktur sosial akan terdapat suatu entitas dominan yang menjadi role model(legitimasi) terhadap aspek-aspek penting dalam struktur sosialnya, yang kemudian akan mendorong entitas lainnya menjadi serupa (homogen) dalam rangka mendapatkan legitimasi pada struktur sosial tersebut. Sekarang ini, melalui pandangan institusional, kita dapat melihat fenomena homogenisasi perempuan yang terjadi setidaknya di Indonesia. Betapa cantik dan sukses dalam struktur sosial para perempuan dilegitimasi oleh para korban-korban televisi dan media sosial (setidaknya menurut subyektif saya), yang kemudian mendorong bahkan memaksa (secara sadar ataupun tidak) mayoritas perempuan lainnya menjadi serupa. Tentu dalam rangka mendapatkan legimitasi cantik dan sukses tersebut di struktur sosialnya. Namun sekali lagi, juga secara sadar ataupun tidak, beliau nyaris menggugurkan asumsi yang dibangun oleh pandangan tersebut. Bahkan melalui cara sederhana, yaitu kesederhanaan itu sendiri. Baik dalam penampilan, tutur kata, sikap, dan perilakunya yang tidak tergiring dalam arus ‘legitimasi’ yang dibangun oleh entitas dominan dalam struktur sosialnya.

‘Curhatan’ sebelumnya setidaknya memberi saya satu simpulan sederhana, yaitu bahwa terlepas dari keterbatasan pengetahuan yang saya miliki, khususnya terkait sains sosial dan keperilakuan. Sejauh ini, cinta dan kasih sayang beliau ternyata belum sanggup digambarkan secara tepat melalui variasi-kombinasi beberapa teori dasar di bidang sosial. Sangat jauh berbeda dari fenomena dan ketakutan saya terkait perempuan pada umumnya (no offense).

Meskipun tidak cukup bisa menggambarkan rasa syukur yang saya rasakan. Catatan lepas-insidentil ini semoga bisa menjadi kado kecil dalam mewarnai dan mendokumentasikan kisah saya dan Istri. Istri yang memberikan ruang kepada suami agar dapat dengan sebebas-bebasnya mendefinisikan kebahagiaan dan romantisme dalam kehidupan berumah tangga kami, dengan tanpa disertai kata “tapi”.

Selamat mensyukuri babak (tahun) baru dalam pernikahan, sayang.

Terimakasih atas semuanya, teman dansa terbaik di setiap pagi dan/atau malam hari.

With love,
Muhammad Afif Sallatu



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s