Potensi dan Tantangan Bisnis Sosial

(27/2/2014) Bisnis sosial karya Muhammad Yunus sebagai sebuah konsep bisnis yang berorientasi penuh pada misi perubahan sosial menjadi bahan perbincangan yang cukup menarik untuk dikaji lebih dalam terkait dengan konsep dari bisnis sosial itu sendiri. Pada beberapa kalangan, konsep bisnis sosial dianggap utopis untuk dilaksanakan, karena melakukan sebuah bisnis atau kegiatan ekonomi yang mana hasil atau laba yang didapatkan sepenuhnya digunakan untuk kepentingan misi sosial dianggap sebagai sebuah pekerjaan yang tidak memberi keuntungan secara materil terhadap orang-orang yang berkecimpung didalamnya, atau dengan kata lain ego individu seperti kebutuhan dan keinginan manusia dalam hal pengembangan taraf hidup dan tingkat kesejahteraannya perlu untuk dikesampingkan terlebih dahulu.

Photo Source: socialenterprise.us

Namun hal ini menjadi menarik ketika banyak fenomena kewirausahaan sosial (sociopreneurship) yang hadir di negeri ini sebagai sebuah tawaran metode baru terkait masalah-masalah sosial seperti pengangguran dan kemiskinan. Meskipun secara garis besar masih belum sepenuhnya berorientasi pada kegiatan sosial yang dijalankan, karena masih cukup terlihat keberimbangan antara perniagaan yang menguntungkan orang-orang yang berkecimpung pada kewirausahaan sosial tersebut dengan misi sosial yang dijalankan. Namun terlepas dari hal tersebut, kondisi ini setidaknya memberi kita gambaran bahwa ‘model baru’ kegiatan berbisnis dengan orientasi sosial tersebut menjadi sebuah tren yang cukup banyak diterima oleh masyarakat, sehingga hal ini mungkin bisa menjadi sebuah norma baru yang terbentuk bagi para pelaku bisnis yang ada, khususnya untuk betul-betul memperhitungkan aspek sosial dalam usaha ekonomi yang dijalankannya. Pada akhirnya, kondisi tersebut mungkin setidaknya bisa secara perlahan-lahan menggerakkan dan mengarahkan sistem ekonomi yang lebih berfokus pada pengentasan masalah-masalah sosial yang ada.

Bisnis sosial juga tidak bisa dikatakan sebagai sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau organisasi nirlaba lainnya. Tidak seperti di LSM, pada bisnis sosial terdapat investor dan pemilik, berbeda dengan struktur yang terdapat pada LSM yang tidak memiliki investor dan pemilik. Perbedaan struktur kerja yang mengacu pada financial self-sustaining juga menjadi pembeda antara bisnis sosial dengan LSM, seperti yang kita pahami bahwa bisnis sosial menekankan kemandirian yang bersumber dari pengelolaan keuangan dan ekonomi yang berkelanjutan (bisnis) dalam melakukan pekerjaan-pekerjaannya. Hal ini berbeda dengan LSM yang bersifat tergantung pada dana hibah yang diturunkan oleh seseorang atau sekelompok dermawan, sehingga akan ada suatu kondisi dimana keberlanjutan program yang dijalankan sangat bergantung pada ‘kedermawanan-kedermawanan’ selanjutnya, yang di titik inilah para pekerja LSM akan menghabiskan pikiran, waktu dan energy mereka dalam melakukan apa yang kita sebut dengan penggalangan dana.

Mengacu pada laporan Bank Dunia “Entering the 21st Century”, disampaikan bahwa memasuki abad XXI terjadi perubahan dalam realitas kehidupan secara universal. Dalam hal ini, masyarakat yang ada saat ini tidak lagi berbicara pada konteks hanya ingin didengar pendapatnya, namun juga sudah berkehendak untuk ikut serta mengambil keputusan. Kondisi ini dimulai ketika pada akhir abad XX terjadi fenomena menarik, dimana hal-hal kecil yang ada dan terjadi di masyarakat tidak lagi bisa untuk diabaikan, dan aspek sosial dan lingkungan adalah bagian yang cenderung menjadi hal ‘kecil’ dalam fenomena bisnis juga tidak bisa lagi dinafikan atau dianggap tidak mendapatkan atensi dari konsumen atau dalam hal ini masyarakat. Seperti kata Muhammad Yunus dalam bukunya Bisnis Sosial, bahwa kelemahan mendasar dari sistem ekonomi kapitalis terletak pada penjabaran asumsinya tentang sifat dasar manusia, dimana manusia yang terjun ke dalam dunia usaha digambarkan sebagai makhluk satu dimensi yang bertujuan tunggal yaitu hanya pada pemaksimalan profit (keuntungan). Hal ini mencederai penggambaran tentang manusia yang dianalogikan seperti sebuah robot pencetak uang. Padahal sekarang ini kita bisa melihat bahwa sifat altruistik yang dinafikan mulai tumbuh dan berkembang di masyarakat.

Dalam konteks bisnis pun dapat kita rasakan terjadi perkembangan ke arah yang sama. Seperti yang dikatakan Hermawan Karjaya dalam New Wave Marketing, bahwa sebuah perusahaan tidak lagi bisa berfikir secara top-down dalam melakukan kegiatan ekonominya. Masyarakat memiliki berbagai macam preferensi yang unik secara satu sama lain, sehingga arah lingkungan bisnis tidak bisa lagi berbicara pada penyediaan variasi yang banyak saja, namun pada penyediaan produk dengan kapasitas pendukung yang memungkinkan pendapat dan keinginan konsumen secara personal terakomodir dalam produk tersebut. Hal ini disebut dengan co-creation. Nah, dalam kaitan terhadap bisnis sosial tadi, terjadi pola yang sama, tapi tidak lagi hanya antara perusahaan dengan konsumen saja, tapi juga pada perusahaan secara organisasi dan individu-individu yang berada di internal perusahaan itu sendiri. Para pemangku kepentingan sebuah perusahaan tidak lagi bisa dijadikan sebagai objek pekerja perusahaan tersebut semata, tapi juga sebagai bagian dari perusahaan yang tidak terpisah dan memiliki peran yang penting. Inilah yang dalam konteks bisnis sosial menjadikan orang-orang yang terlibat didalamnya tidak hanya sebagai pekerja atau penikmat (konsumen) bisnis sosial saja, namun juga sebagai pelaku bisnis sosial. Oleh sebab itu, dapat kita lihat terjadi optimalisasi secara kinerja dan hasil yang dicapai ketika semua orang yang diyakini terdapat jiwa sosial. Hal berarti bahwa kebahagiaan tidak hanya berbicara tentang maksimalisasi profit secara individu semata. Hal tersebut mengindikasikan lanskap bisnis menjadi lebih horizontal. Setiap pemangku kepentingan tidak sekedar ingin menjadi pendengar kesuksesan sebuah bisnis atau kegiatan sosial saja, tapi juga memiliki keinginan dan kepuasan yang besar untuk bisa berkontribusi di dalamnya, baik itu secara langsung maupun tidak.

Lebih lanjut, dalam rangka mengoptimalkan momentum tren model kewirausahaan sosial tersebut, sudah seharusnyalah pemerintah, akademisi, LSM, dan yang lainnya yang memiliki atensi yang sama untuk mencoba meramu sebuah kerangka baku yang bisa menjelaskan dan memungkinkan masyarakat untuk terjun ke bisnis sosial tersebut. Mulai pada bagaimana membuat hingga mengembangkan suatu bisnis sosial secara efektif di suatu daerah, yang tentu sesuai dengan sifat dan komplesitas suatu daerah, masyarakat dan konteks permasalahan sosial dan lingkungan daerah itu sendiri. Bisnis sosial tersebut juga harus bisa dijalankan secara mandiri dan berkelanjutan, disertai dengan hasil perubahan sosial dan lingkungan yang riil.

Penentuan keberhasilan tahunan suatu bisnis sosial tidak berbicara tentang besaran peningkatan nilai aset yang dimilikinya, tapi pada persentase tingkat penurunan suatu permasalahan sosial yang dikerjakannya. Selanjutnya, hal yang perlu diingat adalah Muhammad Yunus mengajarkan bahwa cara terbaik dalam merumuskan suatu permasalahan ekonomi dan sosial adalah dengan mencoba menemukannya di luar dari kerangka teori ekonomi yang ada, model yang sama ketika ia menemukan apa yang dinamakannya sebagai bisnis sosial, dimana Ia sangat mengedepankan perkembanggan dari bottom-up dan eksperimentasi. Terakhir, tentu saja tidak lupa bahwa bisnis sosial tersebut tetap pada kaidah-kaidah yang telah didefinisikan dengan baik oleh Muhammad Yunus dan Hans Reits dalam Bisnis Sosial yaitu:
1. Bertujuan untuk mengatasi masalah sosial dan lingkungan (pendidikan, kesehatan dan akses teknologi).
2. Perusahaan berjalan secara berkelanjutan dalam hal finansial dan ekonomi.
3. Tidak ada pembagian dividen, jumlah investasi yang dikembali sama, dimana tidak ada profit yang didapatkan dan bahkan jumlah tersebut tidak dipengaruh oleh penyesuaian akibat inflasi.
4. Surplus yang didapatkan sepenuhnya didedikasi untuk kepentingan misi sosial yang ingin dicapai.
5. Bertanggung jawab secara ekologi.
6. Angkatan kerja mendapatkan upah sesuai pasaran meskipun dengan kondisi kerja yang diatas standar.
7. Dikerjakan dengan senang hati!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s