Pemimpin: A “Professional Problem Solver”

(10/3/2014) Sangat menarik mendengar dan menjabarkan kalimat sederhana oleh bapak mantan Presiden kita yaitu B.J. Habibie dalam bincang-bincang singkatnya di sebuah acara talk show pada 5 februari 2014 yang lalu. Beliau menjelaskan pemahamannya tentang menjadi seorang pemimpin, dimana beliau secara sederhana menggambarkan pemimpin sebagai sebuah pekerjaan, atau dengan kata lain, pemimpin adalah seorang Professional Problem Solver.

Dalam banyak literatur di bidang manajemen, secara garis besar pemimpin didefinisikan sebagai sebuah proses mempengaruhi orang lain dalam upaya mewujudkan sebuah tujuan organisasi, sehingga dapat kita lihat bahwa pemimpin cenderung dilekatkan dengan kata ‘pengaruh’. Berbeda dengan kata pimpinan, yang dalam beberapa literatur tentang kepemimpinan selalu memisahkan kedua kata tersebut (pemimpin dan pimpinan). Pimpinan lebih dilekatkan pada konteks jabatan atau posisi seseorang secara struktural (formal), berbeda dengan konteks pemimpin yang tidak terikat pada jabatan atau posisi secara struktural seseorang dalam sebuah organisasi. Perbedaan keduanya bisa terlihat pada pola perilakunya masing-masing, yang mana pimpinan terbentuk dan dibatasi oleh aturan-aturan atau tata karma birokrasi yang ada, berbeda dengan pemimpin yang bergerak secara alamiah sesuai dengan ‘seni’ kepemimpinannya. Oleh karena itu, dari beberapa penjelasan tadi, sering kita mendengar pernyataan yang mencoba menggambarkan garis pemisah kedua hal tersebut dengan menjelaskan bahwa seorang pimpinan belum tentu adalah pemimpin, namun pemimpin sudah pasti pimpinan atau dalam hal ini memiliki pengikut (bawahan).

Photo Source: www.quora.com

Tipologi pemimpin juga terdapat bermacam-macam, merangkum dari beberapa ahli, tipe-tipe kepemimpinan yang lazim kita temui ialah seperti otoriter, demokratis, kharismatik, paternalistis, dan kepemimpinan melayani. Otoriter memiliki tipikal memimpin dengan sewenang-wenang, keras, tertib, dan ketat. Demokratis memungkinkan terjadinya pemerataan peran, fungs,i dan tanggung jawab dalam kelompok yang dipimpinnya. Kharismatik menggunakan daya tarik seorang pemimpin dalam melakukan inovasi dan mengarahkan para bawahannya dalam bekerja. Paternalistik dicirikan sebagai sebuah pengaruh yang bersifat ke’bapak’an dalam hubungan pemimpin dengan kelompoknya. Sementara itu, kepemimpinan melayani lebih menekankan pada empati atau kepedulian yang besar terhadap kelompoknya, sehingga pada prakteknya pemimpin melayani para bawahannya. Pada beberapa literatur kepemimpinan yang ada, terdapat berbagai teori kepemimpinan yang membahas tentang asal mula dari kepemimpinan itu sendiri. Seperti teori sifat (trait theory) yang berpendapat bahwa pemimpin itu dilahirkan secara genetik. Berbeda dengan teori kelompok yang menganggap bahwa pemimpin itu diciptakan, dimana teori ini berasumsi bahwa agar sebuah kelompok bisa mencapai tujuan-tujuannya, harus terdapat suatu pertukaran yang positif di antara pemimpin dan pengikut-pengikutnya. Ada juga teori situasional dan model kontijensi yang mengemukakan bahwa pemimpin timbul karena situasi dalam perilaku organisasi memungkinkan untuk dia ada (Miftah Thoha, kepemimpinan dalam manajemen).

Realitas Kepemimpinan dalam Organisasi Sektor Publik

Hal yang menarik atas konsep kepemimpinan adalah fakta bahwa tidak semua tipe kepemimpinan yang ada bisa menjadi sebuah ‘jawaban’ atas permasalahan bangsa yang ada di Indonesia. Pendekatan otoriter, demokratis, kharismatik, paternalistik, melayani dan lain sebagainya terkadang tidak bisa secara otomatis menjawab permasalahan sebuah organisasi. Sebut saja dalam hal ini Pemerintah, yakni sebuah organisasi yang bertugas dan memiliki otoritas penuh dalam mengelola negara secara efektif dalam usaha mewujudkan tujuan dasar dari setiap negara, yaitu kesejahteraan (dalam arti yang sebenar-benarnya) di setiap lapisan masyarakatnya. Fenomena sulitnya menggapai tujuan organisasi (baca: pemerintah) dalam konteks kepemimpinan dimaknai sebagai sebuah kondisi dimana seorang presiden dalam kapasitasnya sebagai seorang pemimpin tidak dapat memainkan perannya dengan baik sebagai solver (pemberi solusi), setidaknya pada tataran kepemerintahannya. Asumsi yang dibangun adalah inefektifitas penyelenggaraan dan pengelolaan negara disebabkan oleh karena aparatur-aparatur negara tersebut masih berkutat dengan permasalahan-permasalahan internal organisasinya sendiri, sehingga bagaimana mungkin mereka dapat melayani dan menyelesaikan masalah masyarakatnya? Maka dapat kita katakan bahwa presiden sebagai orang yang berada dalam struktur tertinggi dalam organisasi tersebut tidaklah menjadi jawaban (solver) atas permasalahan-permasalahan yang ada, sehingga dapat dipahami bagaimana tujuan luhur di setiap negara tadi masih ‘betah’ tersimpan di dalam angan-angan.

Mari kita coba tarik sedikit kondisi tersebut pada konteks yang lebih dekat yaitu kampus, atau dalam hal ini institusi pendidikan yang banyak berinteraksi dengan masyarakat-masyarakat yang masuk pada golongan ‘beruntung’. Mengingat bahwa penekanan yang disampaikan oleh pak Habibie sebenarnya cukup sederhana, bahwa pemimpin haruslah menyediakan sebuah solusi yang tidak hanya bersifat jangka panjang tapi juga taktis atas masalah-masalah yang ada dan di‘sodor’kan oleh masyarakatnya. Pemikiran ini sangat jauh dari fenomena yang bisa kita lihat dan rasakan sehari-hari, yaitu pada orang-orang yang sekiranya mengaku sebagai pemimpin dan memiliki kapasitas sebagai pimpinan dalam sebuah institusi pendidikan tinggi. Padahal, pada prakteknya hanya lebih banyak melakukan pengalihan tanggung jawab atas dasar ketidaktahuan, ketidakmampuan, atau pada titik esktrim mungkin kita dapat bahasakan sebagai bentuk ketidakpedulian atas masalah-masalah yang ada dan di’sodor’kan oleh masyarakatnya. Seperti kondisi yang lazim kita temui ketika bertemu dengan seorang pimpinan atau pejabat fakultas, yang justru jauh lebih banyak mengarahkan kita ke pimpinan atau pejabat fakultas yang lain ketika kita mencoba menyodorkan suatu permasalahan. Pengalihan tersebut bahkan selalu dibarengi dengan berbagai macam apologi (pembenaran) atas tindakan yang dilakukannya. Misalnya seperti bukan bidangnya, kapasitasnya, dan lain sebagainya. Sangat jauh dari pemahaman bahwa amanah atau dalam hal ini jabatan/posisi sangatlah terikat pada sebuah tanggung jawab yang tidak kecil, dan setiap tanggung jawab adalah sebuah konsekuensi logis atas pilihan yang diambil atau diterimanya.

Oleh karena itu, menjadi sebuah urgensi bahwa filosofi kepemimpinan sepatutnya dimaknai secara mendalam. Tidak hanya berada pada tataran aplikatif seperti kemampuan mempengaruhi, berbicara, kharismatik, dan lain sebagainya. Namun lebih kepada alasan mendasar kenapa seorang pemimpin itu perlu ada dalam sebuah organisasi ataupun komunitas-komunitas kecil lainnya. Jika seperti itu, akan tercipta kolaborasi yang sinerji antara filosofi dan praktik kepemimpinan yang visioner serta efektif, dan tentu saja bisa menjadi sebuah jawaban atas kebutuhan masyarakat sebuah organisasi di setiap lapisan dan konteks apapun akan seorang patron yang ideal. Patron yang betul-betul bisa menjadi nakhoda dalam keseluruhan usaha (proses) pencapaian tujuan sebuah komunitas atau organisasi. Dalam arti yang lebih sederhana, dapat berperan sebagai solver atas sekelumit permasalahan organisasi (masyarakat konstituennya) yang ada dan muncul dalam kehidupan berorganisasinya. Karena pemimpin seyogyanya tidak melulu dilekatkan pada figuritas dangkal semata. Indonesia sudah memiliki banyak orang (figur) hebat dan ‘besar’, namun kebanyakan belum menjadi solusi dari sekelumit permasalahan yang ada di negeri ini. Bahkan pada akhirnya, hanya akan hilang ditelan oleh sistem yang telah korup.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s