Kota Daeng yang (mau) menDunia

(20/3/2014) Sedikit Prolog:

Ada satu poin yang menarik dari bedah buku yang diadakan di Rumah Baca Philosophia pada 14 Maret 2014 yang lalu, dimana buku PERANG KOTA yang dihasilkan sebagai sebuah dokumentasi dalam bentuk kumpulan data-data hasil penelitian atas realitas politik yang terjadi dalam ajang pemilihan kepala daerah (pilkada) kota Makassar di tahun 2013 yang lalu. Hal tersebut kemudian menggelitik pikiran saya yang kemudian ikut tersadar tentang betapa seringnya kita terbuai dengan gelombang perhelatan-perhelatan politik yang terjadi secara berurutan, yang celakanya, ketika kita berada pada satu perhelatan politik yang baru, cenderung kita menjadi amnesia dari realitas-realitas politik yang terjadi pada perhelatan politik sebelumnya. Untuk itu, IDE-C (Indonesian Development Engineering Consultant) yang dipimpin oleh bang Rahmad mencoba keluar dari kondisi tersebut dengan merangkum dokumentasi atau kepingan realitas hasil penelitian IDE-C dalam satu buku berjudul PERANG KOTA.

Beberapa pernyataan-pernyataan pembuka yang sederhana seperti “ingatkah kita jumlah bakal calon yang balighonya terpampang di setiap ruas kota Makassar berjumlah 37 bakal calon?”, atau “ingatkah kita baligho Ariyadi Arsal, politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dengan tagline I Love Makassar sudah terpampang di beberapa ruas kota Makassar bahkan sebelum bulan April 2013?”. Hal-hal kecil namun tegas mengingatkan kita akan kecenderungan mengalami amnesia politik, khususnya ketika sudah berada pada perhelatan politik yang lain (selanjutnya).

Maka dari itu, saya pun tertarik untuk setidaknya mencoba menguraikan (mendokumentasikan) fenomena politik dan konsep pembangunan dalam konteks kota Makassar, yang dalam hal ini saya hanya akan memfokuskan pada pasangan walikota dan wakil walikota terpilih saja, yang saya rangkum dari beberapa sumber untuk kemudian bisa dijadikan sebagai bahan untuk mengingat dan semoga saja memicu diskusi dan penalaran yang lebih mendalam terkait dengan konsep pembangunan kota Makassar yang akan berjalan selama 1 periode (5 tahun) kedepan.

Photo Source: pesonawisataindonesia.com


Era Baru PILKADA Makassar

Pasca terpilihnya Danny Pomanto dan Syamsul Rijal pada pemilihan kepala daerah yang dilaksanakan pada 18 September 2013 lalu menjadi suatu fenomena yang cukup sensasional dalam konstestasi politik kota Makassar. Setidaknya di benak masyarakatnya, dimana Danny Pomanto sebagai pelaku profesional yang bukan seratus persen putra daerah ataupun kalangan birokrasi terpilih dan keluar sebagai pemenang secara signifikan dalam arena politik kota Makassar. Hal tersebut sangat berbeda dari ‘kebiasaan’ warga Makassar yang cenderung menetapkan pilihannya pada pemimpin yang berasal dari kalangan birokrasi.

Meski tanpa menafikan peran para elit dan perangkat politik lainnya dalam ‘memasang badan’ pasangan calon tersebut (DIA). Berdasarkan survei yang dilakukan oleh IDE-C, dilaporkan bahwa bahwa terdapat dua faktor dominan yang menjadi alasan utama para pemilih atau dalam hal ini warga kota Makassar yang terdaftar sebagai DPT (daftar pemilih tetap) dalam menentukan suaranya pada proses pemilihan kepala daerah kota Makassar pada September 2013 yang lalu. Dalam hal ini, yaitu percaya pada kemampuan pasangan calon dan percaya  pada program dan janji pasangan calon. Poin yang dapat ditarik dari hasil penelitian tersebut adalah pemahaman para pemilih terhadap kombinasi antara program dan janji yang dibarengi dengan kemampuan pasangan calon menjadi indikator yang sangat penting dalam menggaet suara masyarakat kota Makassar.

Dengan demikian, dapat kita katakan bahwa visi pasangan DIA (Danny-Ichal) yang menekankan pada tiga pokok pikiran yang secara konseptual diarahkan pada aspek kesejahteraan masyarakat, pembaharuan tata kelola, dan pemerintahan yang baik, yang mana disimplifikasi pada kata Kota Dunia, Nyaman, dan Untuk Semua (www.pilihdia.com/visi-misi). Dapat dipastikan bahwa hal tersebut tidaklah menjadi faktor tunggal atas kemenangan pasangan DIA dalam pemilihan kepala daerah kota Makassar yang lalu. Namun, juga dikarenakan oleh kepercayaan publik terhadap kemampuan dan kolaborasi antara sosok Danny Pomanto sebagai seorang profesionaldalam bidang tata ruang yang menekankan tentang pentingnya kepemimpinan, dan Syamsu Rijal sebagai seorang politisi yang memiliki pengalaman organisasi yang mumpuni, yang kapasitasnya dianggap bisa merealisasikan program dan janji yang mereka sampaikan di setiap forum di masa kampanye. yang bahkan mengantarkan pasangan tersebut pada perolehan 31,18 persen atau 182.484 suara (KPU Makassar). Persentase yang menjadi mereka berdiri pada podium kemenangan sebagai walikota dan wakil walikota Makassar terpilih. Khususnya dalam arena politik yang untuk pertama kalinya dalam sejarah politik Indonesia, pemilihan walikota diikuti oleh 10 pasang kontestan (Rahmad M. Arsyad dalm buku PERANG KOTA).

8 Jalan Masa Depan menuju Kota Dunia?

Penekanan yang tegas oleh pasangan Danny Pomanto dan Syamsul Rijal terhadap visi mereka yaitu mewujudkan Makassar sebagai sebuah kota dunia sedikit banyak membuat masyarakat kemudian bertanya, sebenarnya apa yang dimaksud (pemahaman) atau definisi dari kota dunia itu sendiri? Tim pemenangan Danny Pomanto dan Syamsu Rijal mendeskripsikan bahwa yang dimaksudkan dengan kota dunia adalah kota yang memiliki keunggulan komparatif secara geografis, potensi sumberdaya alam, dan infrasturuktur sosial ekonomi. Selain itu, memiliki keunggulan kompetitif dimana pertumbuhan dan perkembangan ekonomi kota yang cukup tinggi, iklim investasi dan usaha yang kondusif, kesempatan kerja dan berusaha menjanjikan. Hal ini ditopang dengan potensi dan karakter masyarakat yang inklusif berdasarkan nilai budaya dan ikatan sosial yang berlaku. Maka, untuk mewujudkan Makassar sebagai Kota Dunia maka harus mewujudkan standar kesejahteraan yang berstandar dunia, pelayanan publik berstandar dunia dan kota yang nyaman berkelas dunia (www.pilihdia.com).

Sebagaimana setiap visi yang ada, tentunya dibangun sesuai dengan hasil perumusan masalah-masalah kontekstual yang kemudian menjadi tantangan serta dibarengi dengan proyeksi peluang yang bisa dimanfaatkan dalam menuju satu cita-cita yang ingin di capai dalam jangka waktu tertentu, yang kemudian dibuatkan kerangka acuan yang bersifat strategis, taktis, dan tentu saja feasible serta memiliki indikator yang jelas. Begitupun dengan visi mewujudkan Makassar sebagai kota Dunia, yang pada sub visinya berbicara tentang pembangunan dari lorong. Tentu saja dituntut agar memiliki kerangka acuan yang bersifat strategis, taktis, dan terangkum dalam satu konsep baku, yang oleh tim pasangan DIA dinamakan dengan “8 jalan Masa DPan”, dimana hal tersebut juga menjadi sebuah janji kampanye yang dipresentasikan oleh mereka (DIA beserta tim sukses) sebagai sebuah tawaran solusi yang konkrit untuk menjadikan Makassar sebagai kota yang berstandar Dunia dalam 1 periode (5 tahun) kepemerintahan.

8 Jalan Masa DPan:
1. Mengatasi macet, banjir, sampah dan masalah perkotaan lainnya. Menyelesaikan 8 masalah besar kota makassar secara terpadu dalam 5 tahun.
2. Pembentukan badan pengendali kota yang independen, yang terdiri dari LSM, Akademisi, Asosiasi Profesional, Tokoh Masyarakat, dan Unsur Masyarakat.
3. Membangun water front city, selamatkan masyarakat pesisir dan pulau-pulau makassar. Memitigasi seluruh pesisir pantai, pulau, sungai, danau, kanal dalam satu perencanaan yang terpadu.
4. Membangun sistem transportasi publik kelas dunia. Dimana busway dan monorel (utama), pete-pete (fidel), dan becak (transportasi lingkungan) dengan sistem one day one ticket.
5. Mempertinggi kualitas infrastruktur kota yang ada dan melengkapi infrastruktur sekelas dunia yang belum dimiliki kota Makassar.
6. Membangun biring kanal city dan 8 ikon kota baru lainnya. Merevitalisasi koridor kanal, tepian kanal dengan tanpa menggusur menjadi koridor kuliner seafood kota Makassar.
7. Membangun taman tematik, taman yang berdasarkan irama, aroma dan warna.
8. Tata total lorong kota makassar, mulai dari sistem sanitasi, air bersih, estetika tampak, bangunan, menghijaukan lorong, dan mendorong tumbuhnya home industry.
(sumber : transkrip atas https://www.youtube.com/watch?v=PJmXMnE-z2c)

Dari penjelasan kerangka 8 jalan masa DPan diatas, saya teringat dengan pesan Bapak yang mengatakan “ilmu pembangunan adalah ilmu keranjang sampah, yang mana semua hal (bidang ilmu) ada disitu”. Betapa tidak, dalam melakukan pembangunan sebuah daerah memang akan terasa naif ketika kita hanya merumuskannya dengan menggunakan pendekatan-pendekatan yang bersifat parsial, karena dalam pembangunan dibutuhkan suatu keluasan berpikir yang terintegrasi dari setiap sektor dan bidang ilmu yang ada dalam mewujudkan suatu formula pembangunan yang komprehensif.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s