Ilusi Platform Perjuangan, Demokrasi Elit, dan Lahirnya Politik Transaksional

(27/3/2014) Partai politik yang dianggap sebagai manifestasi sistem demokrasi di Indonesia tentu saja memiliki fungsi-fungsi yang krusial. Hal tersebut karena institusi yang dianggap sebagai representasi dari masyarakat ini memiliki fungsi yang tidak hanya sekedar sebagai penghubung dalam menyampaikan atau mewakili setiap aspirasi masyarakat sebagai konstituennya, dengan pemerintah di setiap level kepemerintahan sebagai intitusi yang memegang otoritas dan bertanggungjawab penuh dalam hal pengelolaan Negara. Namun juga berperan penting dalam usaha-usaha pelaksanaan dan peningkatan pendidikan politik serta membangun etika dan budaya politik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Hal ini sesuai dengan yang tercantum dalam tujuan dan fungsi partai politik pada undang-undang No. 2 tahun 2008. Oleh sebab itu, kondisi tersebut seharusnya dipahami sebagai sebuah kesadaran berpolitik yang mendasar bagi setiap pelaku politik yang ada.

Idealnya, setiap partai politik yang ada lahir didasari atas sebuah visi kebangsaan yang ingin diperjuangkannya, dimana rumusan visi tersebut kemudian akan membentuk sebuah platform perjuangan yang menjadi batasan framework (kerangka kerja) partai dalam arah dan usaha-usaha partai tersebut menuju pada visi kebangsaan yang dicita-citakannya. Yang kemudian tentu saja menjadi sebuah nilai ataupun aturan main yang mendasar dalam membentuk suatu struktur kepartaian yang dalam hal ini yaitu proses-proses recruitment kader yang seyogyanya sesuai dengan platform perjuangan partai politik yang bersangkutan.

Lain halnya dengan kondisi saat ini, dimana fenomena politik praktis secara angkuh dan blak-blakan mematahkan prinsip dan idealitas dari platform perjuangan di hampir seluruh partai politik yang ada. Kita bisa melihat betapa seringnya terjadi ketidakseimbangan terhadap dinamika atas proses-proses yang terjadi di dalam partai politik yang ada, yang diakibatkan oleh adanya dominasi-dominasi dari individu (baca: tokoh) tertentu dalam partai tersebut, sebagaimana kita biasa menyebutnya dengan panggilan ‘The Big Man’ (orang besar) atau dalam sebutan Suzanne Keller yang seorang sosiolog dari Princeton University Amerika Serikat sebagai ‘Elit Penentu’ (Keller, Noer terj. : 1995,119 dalam Perang Kota). Namun, hal ini tentu saja tidak terjadi secara kebetulan, karena apabila kita mencoba menarik hal tersebut pada kondisi di tingkat yang berada lebih di bawah, kita dapat melihat bagaimana proses recruitment kader partai yang terjadi secara praktis, yang sangat jarang dilakukan dengan didasari atas kesepahaman terhadap ideologi dan visi kebangsaan yang kemudian menjadi platform perjuangan partai politik bersangkutan. Implikasinya tentu saja akan menjadi hal yang diwajarkan dan biasa-biasa saja ketika seorang politisi melakukan perpindahan dari satu partai ke partai yang lain secara ‘instan’.

Perpindahan seorang politisi dari satu partai ke partai yang lain umumnya hanya didasari oleh tidak terakomodirnya hasrat ataupun kepentingan individu tersebut dalam suatu partai. Selain itu, berdasarkan harapan yang tinggi terhadap kapasitas yang dimilikinya dalam berbagai bentuk, seperti kekuatan modal (finansial) yang besar, jabatan (posisi) di pemerintahan, kompetensi pengetahuan, penguasaan basis massa, dan lain sebagainya. Hal ini yang menjadi ‘nilai jual’ individu tersebut dalam mencoba berpindah dan melancarkan kepentingannya (individu ataupun kelompok) pada suatu partai politik yang lain.

Photo Source: www.victorynews.id

Demokrasi Elit dan Lahirnya Politik Transaksional

Sekelumit penjelasan tentang betapa rendahnya nilai filosofis dari partai politik yang diakibatkan oleh kaumnya sendiri (khususnya oleh para elit politik) ditandai dengan betapa mudahnya melakukan perpindahan partai dan menciptakan dominasi dalam suatu partai. Tentunya hal ini sedikit banyak memberikan gambaran pada kita semua bahwa sebenarnya demokrasi yang terjadi sekarang ini tidak lebih dari sekedar demokrasi elit. Demokrasi hanya betul-betul terlaksana pada ruang-ruang yang dimiliki oleh para ‘The Big Man’ yang ada, dan masyarakat secara luas hanya cenderung menjadi sekedar pengamat di negeri sendiri. Pada titik esktrim, bahkan dapat menjadi kambing hitam yang tanpa sepengetahuannya dijual di ‘pasar gelap’ yang bernama pemilu oleh para elit tersebut.

Dominasi individu yang lebih menonjol kemudian secara perlahan menciptakan sebuah tren berpolitik yang baru, dimana para pelaku partai politik tersebut bertarung melalui pendekatan yang lebih berfokus pada penguatan figuritas dari elit partai politiknya, sebagai tokoh yang kemudian akan berperan sebagai sebuah simbol bersamaan dengan positioning pembangunan dari partai politik itu sendiri. Padahal, positioning tokoh dan positioning partai sekarang ini menjadi 2 hal yang tidak bisa disamakan.

Meminjam konsep communal activation sebagai salah satu elemen dalam 12’c yang dikembangkan oleh Hermawan Kartajaya, dimana elemen tersebut adalah perkembangan dari elemen place yang menjadi bagian dari marketing-mix yang berfungsi sebagai sebuah saluran distribusi yang berperan dalam menghantarkan produk dari produsen ke konsumen yang berada dalam satu siklus yang kita sebut dengan supply chain management (SCM)Yang pada perjalannya Hermawan melalui pendekatan horizontalisasinya dalam dunia marketing kemudian mengembangkan konsep tersebut menjadi communal activation, yang berarti mengaktifkan sebuah komunitas lewat para pemimpin atau aktivis komunitas tersebut. Perkembangan elemen ini didasari pada asumsi bahwa dalam melakukan penetrasi pasar kita tidak perlu menjaring keseluruhan pasar tersebut, tapi cukup pada orang-orang yang memiliki pengaruh dalam pasar, atau yang dalam model Crossing the Chasm karya Geoffrey A. Moore dibahasakan dengan para innovators, yang secara tidak langsung akan menjadi influencers dan kemudian bertindak seperti virus yang menyebar di pasar secara keseluruhan. Dengan kata lain, dapat kita pahami bagaimana para pemasar dituntut untuk menjadi seorang Sniper (penembak jitu) dan bukannya Rambo (penembak beruntun).

Penjelasan di atas ketika dikontekskan dengan dunia politik saat ini, kita dapat melihat bahwa terjadi pergerakan ke arah atau model yang sama, dimana tren berpolitik yang lebih menekankan pada figuritas seseorang yang entah itu elit politik, tokoh masyarakat, pemimpin kelompok masyarakat, pemuka agama, selebriti, dan lain sebagainya, telah menjadi sebuah titik awal atas lahirnya politik transaksional. Sesuai dengan asumsi dasar paham kapitalisme, dimana manusia yang berada dalam sebuah dunia usaha digambarkan sebagai makhluk satu dimensi yang hanya memiliki satu tujuan (tunggal) yaitu maksimalisasi profit. Maka begitupun yang terbangun dalam arena politik yang ada saat ini. Hampir seluruh ‘figur-figur’ yang memiliki basis tersendiri dalam masyarakat tersebut cenderung menjadi serakah atas peluang yang mereka dapatkan sebagai aktivis komunitas, yang kemudian dimanfaatkan untuk kepentingan-kepentingan individunya sendiri, yang pada perjalanannya juga akan memperkuat posisinya dalam komunitas tersebut.

Dengan demikian, dapat kita pahami bahwa politik transaksional itu sendiri bisa lahir karena tren berpolitik yang sangat berfokus pada penguatan figur yang cenderung menjadi dominan dalam sebuah komunitas. Yang dalam kajian sebelumnya, hal tersebut bisa menjadi sebuah peluang dalam mencoba memasuki atau bahkan menguasai ‘pasar’. Karena dalam politik, sulit rasanya menggunakan asumsi yang dibangun oleh bapak ekonomi kita Adam Smith yang mengatakan bahwa semua orang adalah baik. Apalagi, mengutip pesan dari Lord Acton yang selalu mengingatkan kita bahwa “Power tends to Corrupt”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s