Desa: Sang “Laboratorium Kehidupan”

(26/11/2011) Kembali ke desa berarti kembali ke sebuah peradaban yang masih kental dengan nuansa-nuansa tradisional, adat, budaya, dan nilai-nilai kearifan lokal. Nilai-nilai yang dimaksud pada beberapa konteks belum betul-betul terjamah oleh budaya-budaya lain yang entah itu positif atau negatif, berasal dari luar daerah yang bersangkutan. Tidak sedikit norma, adat, dan budaya yang dimiliki dari setiap struktur masyarakat yang ada di desa, yang mengandung banyak pelajaran yang sangat bermakna untuk bisa diaplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Bagi saya, hal tersebut harus kita teladani sebagai masyarakat kota yang juga menjadi bagian yang tidak terpisah dari desa. Sebenarnya pada konteksi ini, perbedaan antara kota dan desa hanya pada tingkat dan laju pertumbuhan daerahnya. Pada masa-masa sekarang ini, cukup bisa tergambarkan bagaimana kehidupan diperkotaan yang sudah sangat jauh dari hal-hal yang bernama tradisi, adat, norma, budaya, dan nilai-nilai kearifan lokal lainnya yang seharusnya menjadi sebuah identitas dari sebuah struktur masyarakat yang ada, pun itu diperkotaan. Bahkan, saat ini cenderung mengadopsi budaya-budaya lain yang berada di luar jauh dari identitas daerahnya.

Di desa, kita bisa melihat bagaimana hal-hal yang berbau tradisi, adat, norma, dan nilai-nilai kearifan lokal selalu tetap dijaga dalam struktur sosial masyarakatnya. Hal ini dianggap menjadi sebuah faktor penting atas harmoni yang terbangun dalam hubungan silaturahmi antar masyarakat desa. Terjaganya identitas desa lestari selama ini juga merupakan hal yang sangat penting, karena artinya kita dapat melihat sebuah corak atau kecirian yang khas tersendiri struktur sosial masyarakat desa tersebut.

Terdapat beberapa kecirian desa yang saya senangi. Pertama, seperti yang kita ketahui bahwa pada wilayah masyarakat desa, jenis mata pencaharian yang mayoritas adalah petani, dan kalau kita mau menelisik sedikit lebih dalam, kita akan memahami bahwa kondisi seperti ini yang juga lah yang menjadi sebuah faktor pendukung terlestarikannya nilai-nilai kesabaran berproses dalam hidup. Seperti yang kita ketahui, bagi seorang petani, proses adalah sebuah hal yang sangat penting, dimana dalam memanen sebidang sawah, mereka tetap harus konsisten dalam menyiram, memberi pupuk, memperbaiki struktur sawah, dan lain sebagainya di tiap hari (pagi dan sore hari) secara terus menerus dalam jangka waktu yang bervariasi sesuai dengan jenis bibit yang ditanam. Kebiasaan yang seperti inilah yang menjadikan petani (masyarakat desa) masih sangat memaknai arti penting dari sebuah proses, berbeda dengan orang-orang diperkotaan yang dengan asupan dari yang kita bahasakan dengan teknologi, membuatnya menjadi manusia-manusia yang instan, selalu ingin memperpendek rantai proses dan kemudian selalu berorientasi pada hasil atau titik akhir. Lebih lanjut, proses yang ada tersebut juga tak lupa dijadikan sebagai sebuah wadah untuk saling bertegur sapa (silaturahmi), bergotong royong, dan lain sebagainya. Berbeda dengan kondisi di kota yang selalu terlihat ‘asyik’ dengan kehidupan pribadinya dan cenderung enggan menyisihkan waktu untuk memperhatikan dan bercengkrama dengan lingkungan sosialnya.

Kedua, sedikit mengutip teori modal sosial milik Fukuyama, dikemukakan bahwa modal sosial adalah kemampuan yang timbul dari adanya kepercayaan dari sebuah komunitas, dimana salah satu variabelnya adalah trust (kepercayaan). Untuk konteks teori modal sosial ini, akan sangat banyak kita lihat terdapat pada tatanan masyarakat yang ada dipedesaan. Karena pada masyarakat desa, nilai-nilai kepercayaan tersebut masih sangat terpelihara dengan baik, karena dianggap menjadi sebuah faktor utama dari terjaganya harmonisasi hubungan pada tiap masyarakat desa, yang dimana kemudian keharmonisan tersebut juga menjadi kekuatan utama masyarakat desa untuk semakin maju dan berkembang. Contoh yang sangat sederhana ialah pada masyarakat desa, tiap warga desa telah terkonstruk dalam pemikirannya sebuah asumsi bahwa semua orang adalah baik, ditambah dengan tradisi untuk menjamu tamu-tamu yang berasal dari luar dengan sangat baik dan bersahabat. Pemikiran seperti inilah yang menjadi landasan kita dapat melihat bahwa pada masyarakat desa, rumah/hunian mereka akan selalu terbuka 24 jam untuk orang-orang yang meskipun mereka belum mengenalnya namun ingin numpang untuk sekedar beristirahat ataupun untuk hal-hal lainnya. Berbeda dengan kondisi masyarakat kota, yang akan sangat susah kita melihat kondisi seperti ini. Umumnya masyarakat kota sudah sangat skeptis dan apatis terhadap orang-orang lain yang tidak dikenalnya. Dengan kata lain, kepercayaan atau yang mewujud dalam asumsi semua orang baik tidak ada pada tataran masyarakat perkotaan. Meskipun tidak bisa dijelaskan sesederhana itu, namun tetap menjadi hal yang cukup disayangkan.

Dan kebiasaan (budaya) terakhir yang ditangkap dan ingin disampaikan oleh penulis, adalah pada masyarakat desa, tanpa mempertimbangkan jarak yang relatif kita dapat katakan jauh, mereka pasti dapat memberikan kita informasi tentang nama-nama dan lokasi warga desa yang ada pada desa, kelurahan, maupun kecamatan yang sama. Ini karena mereka menganggap siltaruhmi antar sesama warga adalah sebuah adat yang terlestarikan secara turun temurun, yang bahkan terkadang pada masyarakat desa, semua warga desa dianggap sebagai keluarga. Di desa kita dapat melihat betapa kuatnya ikatan yang ada di masyarakat desa, dan bagaimana mereka berproses secara komunitas. Berbeda dengan masyarakat kota yang sudah sangat individual, kita bisa melihat dalam suatu kawasan perumahan diperkotaan, sangat cenderung tidak ada pola interaksi antara warga yang satu dengan yang lainnya, semua sibuk dengan urusan pribadi dan menafikan struktur sosialnya. Yang pada tingkatan ekstrim, orang-orang diperkotaan bahkan tidak mau tahu-menahu apapun masalah yang ada pada lingkungannya.

“Siapapun kita sekarang, semoga kita tetap selalu mengingat siapa, dan dari mana kita berasal.”

Hanya sebuah catatan lama yang sedang rindu akan sosok ‘desa’. =)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s