(Bukan) Catatan seorang “Anak Gaul”

(25/11/2011) Ketika kita berbicara tentang struktur sosial yang terjadi pada konteks masyarakat perkotaan, khususnya pemuda dari masyarakat perkotaan tersebut, akan selalu identik dengan budaya atau pola perilaku yang melekat pada struktur sosial yang ada. Yang lucunya, budaya dan pola perilaku yang tumbuh berlangsung dan berkembang tersebut bukanlah sebuah budaya yang berasal dan tergambarkan dari nilai-nilai kearifan lokal dari masyarakat setempat. Namun, lebih didominasi oleh budaya-budaya yang berasal dari luar dan bagaimana kemudian ia (budaya) diadopsi secara massif oleh masyarakat, khususnya pada pemuda setempat tersebut.

Photo Source: pekanbaru.tribunnews.com

Hal ini menjadi sangat menarik (baca:lucu) ketika kita dapat melihat kondisi seperti sekarang ini, dimana bahkan budaya atau kebiasaan-kebiasaan lainnya yang sebenarnya telah ada dari dulu sudah berada pada kondisi “teralienasikan”. Kita sebagai kaum muda terkadang sudah menganggap bahwa hal-hal yang menyakut dengan budaya-budaya ketimuran kita tidak lebih dari sebuah budaya/kebiasaan yang  aneh, yang pada titik ekstrim, kita bahkan menganggapnya memalukan. Kita malu ketika dilihat oleh teman kita ketika hendak meminta izin orangtua (pamit) kita. Merasa aneh ketika saat memasuki senja, kita beranjak keluar rumah dan membersihkan pekarangan rumah. Atau yang paling umum, kita telah lupa kerendahan hati yang dimiliki oleh orang-orang timur yang menjadi sebuah ciri khas dan menjadi identitas kita. Semuanya hanya karena masuknya budaya-budaya luar, yang lebih awam kita bahasakan dengan trend-trend terbaru. Entah ia berada dalam wujud materil, maupun non materil. Namun satu hal yang pasti adalah kerendahahan hati yang dimaksud sebelumnya tersebut hilang seiring dengan desakkan budaya asing yang membuat kita pada intinya selalu mau lebih dan lebih, yang salahnya ialah karena “lebih” yang dimaksud adalah hal-hal yang kita sendiri tidak tahu asas kebermanfaatan yang dimilikinya, kita mengikutinya hanya karena persoalan kita tidak ingin menjadi aneh apabila ketika menjadi biasa-biasa saja.

Satu hal yang yang perlu kita ingat pada kondisi-kondisi seperti ini ialah, bahwa ini juga menjadi salah satu faktor yang menumbuhkan serta melestarikan ketidakmerdekaannya masyarakat kita secara pemikiran. Entah kita sadar atau tidak dengan kondisi seperti di atas, secara tidak langsung menjelaskan bahwa masyarakat kita sangat rentan untuk dikonstruk pemikirannya agar seragam. Celakanya, konstruksi pemikiran seragam tersebut selalu diselubungi oleh kepentingan-kepentingan pasar tertentu dalam mencapai tujuannya, yaitu maksimalisasi profit. Contoh sederhana ialah ketika di awal, pemikiran kita dikonstruk seragam bahwa seorang wanita yang ideal adalah yang cantik, dan indikator kecantikan yang dikonstruk adalah putih. Maka kemudian para wanita pun berlomba-lomba membeli segala macam produk pemutih yang langsung disediakan Pasar. Kita harus menyadari bahwa secara tidak langsung landasan gerak yang kita lakukan lebih didominasi oleh ketakutan kita ketika menjadi berbeda dari hasil konstruksi tersebut, atau dengan singkat kata, Aneh.

Dan yang menjadi pertanyaan, apakah kita sadar akan konstruksi pemikiran yang mengarahkan kita seperti itu?

Hanya sebuah pendapat..

Semoga Bermanfaat..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s