Belajar dari Pasar Tradisional

(18/1/2011) Dewasa ini, kita dapat melihat bahwa tingkat persaingan dalam usaha pemenuhan kebutuhan (Ekonomi) telah bersangsur menjadi sangat ketat. Maraknya perkembangan pasar-pasar modern saat ini dapat dilihat sebagai penanda dari hal tersebut, karena jumlah  dari pasar-pasar modern tersebut bahkan dapat dikatakan 2-3 kali lipat dari jumlah pasar tradisional yang masih survive saat ini, dengan tingkat pertumbuhan yang juga sangat signifikan.

Akan tetapi, terlepas dari sebuah perubahan tatanan perekonomian yang secara estetika dianggap sangat baik. Terdapat banyak ketimpangan yang terjadi di dalamnya, mulai dari mencuatnya skandal-skandal yang terjadi pada tubuh pemerintahan yang mengkomersilkan aset-aset kota/daerah untuk sebuah tujuan yang bersifat individual, sudah tidak adanya lagi perhatian yang penuh terhadap pasar-pasar tradisional yang notabene diisi oleh kaum menengah ke bawah sebagai pelaku pasarnya, dan secara tidak langsung kita dapat melihat mulai timbulnya paham kapitalis sebagai akibat maraknya pasar modern yang sebagian besar dapat kita pahami bahwa hanya lebih berorientasi pada pemaksimalan profit, yang maaf saja, kalau saya katakan meskipun pemaksimalan profit tersebut harus dengan merugikan pelaku pasar lainnya, entah itu pada pasar modern yang lain, ataupun pasar tradisional.

Yang menarik dari hal di atas ialah, ternyata ada sebuah (saya mengatakannya) filosofi yang dimiliki pelaku usaha pada pasar tradisional yang dianggap sebagai unsur utama alasan kenapa beberapa pasar tradisional saat ini masih dapat bertahan di tengah kuatnya terjangan pasar-pasar modern. Pasar-pasar tradisional yang berdomisili di makassar sendiri, ada sebuah semboyan “Sitallasak jaki para tau” dengan arti “kita saling mensejahterahkan sesama manusia”. Hal inilah yang menjadi unsur utama kenapa pasar-pasar tradisional di makassar masih dapat bertahan. Karena ternyata, konsumen (pembeli) dan maksimum profit bukanlah menjadi sebagai sebuah acuan utama dalam usaha pemenuhan kebutuhan hidup para pelaku usaha, akan tetapi pada rasa kekeluargaan yang kuat atas sesama, yang dimana dibahasakan sitallasak (saling mensejahterahkan) lah yang membuat mereka tidak saling menjatuhkan sebagai pelaku usaha dan melakukan kegiatan ekonomi guna memenuhi kebutuhan hidup.

Photo Source: news.detik.com

Secara sederhana, ketika kita memposisikan diri sebagai seorang pelaku usaha dalam pasar tradisional, kita tidak berada dalam lingkungan yang akan mengarahkan kita pada nuansa kapitalisme. Akan tetapi, kita diarahkan agar bagaimana kegiatan ekonomi dalam memenuhi kebutuhan hidup dilakukan secara beriringan dan bersama-sama berdasar atas asas kekeluargaan.

Contoh riil, ketika saya hanya sebagai seorang penjual sayur, dan anak saya ingin memakan ikan, saya tidak akan sungkan-sungkan mengambil ikan dari teman yang berjualan ikan, ada atau lagi tidak adanya teman (penjualnya) tersebut, akan dianggap tidak apa-apa. Meskipun saya mengambilnya tanpa diketahui oleh penjualnya (karena sedang tidak ada). Begitupun sebaliknya, ketika teman (penjual ikan) tersebut ingin beberapa sayur, dia tidak akan sungkan-sungkan mengambil sayur dari dagangan saya meskipun saya sedang tidak ada. Hal ini sangat didukung oleh sistem pasar yang dinamakan dengan “Palamparak, Pagandeng”, yaitu sistem penjualan yang hanya menggunakan tikar dan becak dengan barang dagangan diatasnya (intinya ialah pada tanpa sekatnya).

Tetapi ketika kita mencoba memaknai cerita tersebut, ternyata saat ini nilai-nilai luhur seperti itu telah mulai terdegradasi akibat banyaknya pasar-pasar modern yang masuk tanpa diimbangi pemberdayaan pasar-pasar tradisional yang ada. Bahkan, pasar-pasar tradisional saat ini akan disulap menjadi sebuah pasar modern yang dimana melupakan suatu hal yang substansil bernama Kearifan lokal.

One thought on “Belajar dari Pasar Tradisional

  1. Feel free too xplore the joyy oof Minecraft and let yoir imagination run free,
    create your own world, explore your surroundings andd protect your character from unexpected problems tme and energy to time.
    An energy condeser iis like a cloner, it’s possible to make exact copies with tthe item.
    Monsters could only spawn in areas without light, so torches
    could keep them away.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s